Perjalanan ke Lembanna 8 (Diantara Dua Pilihan)

>> Monday, June 25, 2007

Malam sudah larut saat telah begitu banyak tema perbincangan kami gulirkan begitu saja; tidak teratur. Saat itu saya ungkapkan kekaguman saya kepada Hatta; salah satu anggota Edelweis yang telah melakukan perjalanan solo, dengan mendaki Gunung Bawakaraeng sendirian. Sebuah perjalanan yang amat beresiko tentunya.

Tetapi ternyata ada informasi yang saya lewatkan. (Belakangan ini saya memang harus fokus pada “urusan lain”, jadi perhatian saya terhadap Edelweis sempat saya alihkan sementara). Leman bilang kalau Jo’ juga telah melakukan perjalanan solonya, guna melakukan pendakian lintas Gunung Lompobattang – Bawakaraeng sendirian.

Tentu saja apa yang telah dilakukan Jo’ lebih beresiko dibandingkan apa yang telah dilakukan Hatta.

Diluar dari kekaguman saya dengan apa yang telah dilakukan kedua teman saya tersebut, sebuah pengalaman lainnya juga telah terjadi. Beberapa jam sebelumnya, panitia PPAB sempat membuka sesi khusus buat peserta untuk menyampaikan presentasi ringan mengenai perjalanan yang telah dilakukan hari ini, dimana mereka harus melaksanakan aplikasi materi survival. Dalam aplikasi ini, peserta hanya diberikan bekal yang sangat minim. Panitia mendesain agar peserta dapat memenuhi kebutuhan akan makanan, minuman dan peralatan, sepenuhnya dari alam. Dengan kondisi seperti itu, tentu saja sangat mempengaruhi keadaan fisik dan mental peserta.

Salah satu peserta, malam itu menuturkan, saat menghadapi kondisi seperti itu, dia harus melewatinya dengan kenyataan bahwa dia sempat terjatuh dan hampir pingsan. Saat itu dia menyatakan satu hal kepada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan melakukan kegiatan seperti ini lagi.

Sebuah pernyataan yang sangat jujur telah dia katakan. Sesuatu yang sangat berbanding terbalik dengan apa yang telah dilakukan Hatta dan Jo’. Mereka berdua telah sampai pada keadaan, dimana suatu kegiatan alam bebas telah membuatnya berusaha mencari suatu aktifitas yang lebih menantang; sesuatu yang memiliki nilai petualangan yang lebih tinggi; lebih ekstrim.

Sebaliknya, si peserta PPAB, telah sampai pada keadaan, dimana suatu kegiatan alam bebas (walaupun hasil rekayasa) telah membuatnya trauma, “menderita” dan tidak menginginkan hal itu terjadi lagi pada dirinya.

Dua buah pengalaman diatas secara alami terjadi pada diri pelaku kegiatan alam bebas, dimana setelah berhasil melalui suatu pengalaman yang cukup ekstrim, akan berhadapan dengan dua pilihan yang akan dilakukan, yaitu akan mencari kegiatan lain yang lebih ekstrim atau sama sekali akan berhenti melakukan kegiatan yang seperti itu lagi. (E024...)

0 komentar:

  © e-production