Parodi Sebuah Bangsa

>> Monday, June 11, 2007

“….kita adalah generasi muda yang ditugaskan memberantas kaum tua yang mengacau…”

Soe Hok Gie

PARODI SEBUAH BANGSA

Dengan pemerannya :

Susilo Bambang Yudoyono sebagai Presidennya,

Yusuf Kalla sebagai wakil presidennya,

Dibantu para menteri, para gubernur, para bupati, camat, pak desa.

Ikuk serta polisi dengan kesatuannya (POLRI) dan para tentara (TNI).

Tak terlupakan partai politiknya, dan LSM.

Disutradarai oleh sebuah kekuatan adidaya.

Bangsa kita sekarang sedang mempertontonkan sebuah parodi kepada rakyat. Parodi sebuah bangsa yang berusaha menghibur penontonnya (baca: rakyat). Sutradara mengarahkan setiap aktornya agar sesuai dengan rekaman pembicaraan (dubbing). Aktornya dengan lihai memainkan perannya masing-masing, berusaha menyesuaikan gerak badan, ekspresi tubuh dengan rekamannya. Agar penonton terhibur semua berusaha menampilkan yang terbaik. Tak terlupakan panggung ditata dengan properti agar tampak menarik untuk penonton yang menyaksikannya.

Tak lebih inilah yang terjadi pada bangsa kita sekarang. Bangsa yang berparodi untuk menghibur rakyatnya dengan janji-janji yang sekedar janji-janji.

Presiden dengan para penasehatnya berusaha mereshuffle menteri-menterinya. Katanya ini salah satu usaha memperbaiki kinerja untuk mengurusi rakyat yang tak bisa makan, tak punya rumah akibat bencana, tak bisa sekolah. Padahal reshuffle tersebut adalah realisasi janji dengan partai politik. Sebelum menjadi presiden, SBY menjanjikan kursi di pemerintahan kepada kader-kader partai politik yang bisa menyumbangkan suara untuknya.

Presiden bersama Menteri Kehutanan, Pertambangan, Menteri Perkonomian dan Perindustrian berusaha menaikkan devisa negara, katanya untuk memperbaiki jalan, memperbaiki sekolah, untuk beras, minyak tanah dan sembako yang murah, dengan berusaha mendatangkan investor (baca:uang) untuk mengolah hutan dengan kayu-kayunya, mengolah hasil tambang, mendirikan pabrik-pabrik di tanah-tanah rakyat yang digusur secara paksa yang dibantu oleh aktor lain, pamong praja atau polisi, mungkin menyewa preman untuk menakut-nakuti rakyat, padahal itu usaha menjual air, tanah, kayu dan hasil bumi lainnya dengan uang yang tak sedikit. Akan dikemanakan uang itu ? Apalagi kalau bukan untuk dibagi-bagi alias korupsi berjamaah.

Para wakil kita di DPR, katanya berusaha menguras dan memutarbalikkan otak, bagaimana uang negara itu digunakan semaksimal mungkin untuk mengganti tembok-tembok sekolah yang rapuh sebelum menimpuk siswa yang lagi belajar, menaikkan gaji buruh, guru, dan pegawai, mengganti perahu-perahu nelayan yang rusak dan tak mampu beroperasi lagi, mengganti buku-buku pelajaran sekolah yang sudah lapuk. Padahal uang tersebut diatur, dihitung, kemudian dibagi untuk buat villa pribadi, buat belanja dan wisata keluarga ke luar negeri, untuk menutup mulut istirinya di rumah yang mendesak di belikan baju mahal, parfum, atau kosmetik lainnya, mudah-mudahan bukan untuk membiayai istri simpanannya.

Para wakil rakyat menyisipkan tunjangan dinas luar kota atau luar negeri katanya untuk melihat dan mendengar aspirasi rakyat dari dekat atau studi banding, para wakil rakyat berusaha menganggarkan dana untuk laptop, dan mobil dinas baru (ini yang tidak masuk akal menurut saya, banyak mobil dinas yang tidak sesuai dengan porsi tugasnya, misalnya mobil dinas jenis Ranger Ford diberikan kepada pegawai yang tempat kerjanya tak jauh dari rumahnya atau kerjanya hanya di daerah yang jalannya mulus kalau untuk dinas kehutanan (satuan polisi kehutanan), ini mungkin sesuai dengan porsi tugasnya karena kerja dan tugasnya melewati tempat dan daerah yang terjal, dan jauh), serta tunjangan komunikasi. Katanya untuk memperlancar kerjanya melayani kebutuhan rakyat. Padahal laptop dipakai untuk bergaya saja, mobil dinas dipakai untuk bergaya, berwisata ke luar kota bersama keluarga atau rekan sejawat, tunjangan komunikasi untuk……..(mudah-mudahan bukan untuk menelpon istri simpanan di luar kota, janjian ketemuan berakhir pekan kemudian bermalam di hotel mewah dan apa yang terjadi,? mungkin kayak Yahya Saeni atau …………..??.

Katanya bersama para jajarannya pemerintah akan memberantas “Tikus-Tikus Kantor” (meminjam istilah dalam lagu Iwan Fals) yang menggelapkan uang Negara (baca:rakyat), toh para jajarannya terus berusaha membuat proyek fiktif atas nama rakyat dengan dana fiktif pula agar bisa menggunakan uang proyek tersebut demi kesenangan pribadi.

Tampil pula partai politik mengatasnamakan rakyat (pendukungnya) mengabarkan kebenaran, janji-janji politiknya, dengan intrik-intrik politiknya berusaha menjatuhkan lawan politiknya, mulai dari cara yang paling tertutup sampai perang terbuka.

Tampil kemudian LSM dengan mengatasnamakan niat tanpa imbalan melakukan kegiatan-kegiatan sosial untuk rakyat. Padahal mereka juga berusaha menyusun anggaran dana yang ditambah-tambahi beberapa rupiah untuk kegiatannya kemudian diserahkan kepada lembaga donor. Setelah dana cair, uang tersebut tetap dipergunakan untuk kegiatan sosialnya walaupun tidak menyentuh ke persoalan mendasar LSM tetap berusaha menghabiskan anggaran (sambil berusaha sedikit-sedikit atau mungkin banyak menyenangkan diri) dan asal kegiatan selesai kemudian dilaporkan dengan sedikit-sedikit fiktif.

Parodi ini akan terus dipertontonkan, bahkan hingga sampai tulisan ini sampai pada kalimat ini, pemerintah masih mempertontonkan parodinya, yang katanya melalui rapat-rapat mendadak presiden dan para menterinya akan menambah dana rehabilitasi bencana nasional, padahal itu mungkin masuk dalam hitungan menteri dan jajarannya untuk beberapa rupiahnya masuk di kantong pribadi, para korban bencana gempa jogya beberapa bulan lalu, masih tinggal di tenda-tenda darurat yang tak layak huni lagi, di saat mereka duduk merapatkan dana yang akan mereka habiskan dengan kursi empuk, ruangan ber AC, sementara para korban tidur beralaskan tikar yang sederhana, dingin menusuk tubuh mereka, angin membuat mereka kedinginan. Katanya pemerintan akan lebih memperhatikan kehidupan dan kebutuhan rakyat padahal pemerintah lebih memilih menggusur rumah dan merampas tanah rakyat (ini terjadi pada masyarakat Meruya) untuk kepentingan pembangunan yang katanya demi menaikkan Pendapatan Asli daerah, jangan-jangan untuk masuk kantong pribadi lagi.

kemudian tunggulah tontonan parodi berikutnya yang akan terus dipertontonkan.

ADEKPIGGYE067

0 komentar:

  © e-production