Perjalanan ke Lembanna 1 (Daeng Pujie)

>> Monday, June 11, 2007

Setelah bertanya beberapa kali kepada daeng becak di pinggir jalan, akhirnya saya sampai di Lorong II; Jalan Macan, motor kupelankan sambil berusaha menggali kembali ingatan sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat pertama kali saya memasuki lorong itu, dan kedatangan saya ini adalah untuk yang kedua kalinya. Motor kuhentikan dan kuputuskan untuk bertanya kepada seorang anak muda yang lagi duduk di depanku, saat saya sadar bahwa ingatanku tidak cukup membantu.

Kubuka tas daypack biru yang kubawa dan kukeluarkan sebuah buku catatan, kucari halaman yang baru kutulis kemarin malamnya saat Daeng Pujie menelponku dan mengatakan: “Jemput aku di rumah Daeng Bombong”. Sehari sebelumnya saya memang telpon Daeng Pujie untuk saya ajak pergi ke Lembanna, tempat dimana panitia PPAB tahun ini memilih untuk menjadikannya basecamp terakhir dalam pendidikan dasar.

Belum selesai saya memasukkan kembali bukuku saat kulihat Daeng Pujie lagi berjalan bersama adiknya; Daeng Kebo’. Aneh juga adik Daeng Pujie yang berkulit cukup hitam ini diberi nama begitu karena kebo’ kalo diartikan dalam bahasa Indonesia berarti putih. Dari jauh Daeng Pujie berteriak: “Belum jam dua belas kan!”. Saat itu memang baru jam setengah dua belas, dan kami memang sepakat untuk berangkat jam dua belas.

Teriakan itu membuatku tersenyum simpul, dan di dalam hati saya berkata: “Pasti dia takut saya bilangi telat!“. Maklum, dari dulu Daeng Pujie memang terkenal tukang telat dalam komunitas UKMPA Edelweis FSUH. Tapi ini pertanda bagus, rupanya dia telah berubah, saya yakin jiwa kepecintaalamannyalah yang merubah itu, menejemen waktu merupakan hal yang sangat penting dalam dunia kepecintaalaman.

Saat itu saya merasakan suatu kesenangan, lebih dari sekedar kesenangan karena Daeng Pujie tidak telat, tapi karena dia telah berhasil mengambil satu nilai dari “agama“ kepecintaalaman. (E024...)


1 komentar:

Anonymous June 12, 2007 at 7:02 PM  

Daeng..Puji!!! Wah,Legendaris di Edelweis ini cukup fenomenal..menurutku. Hampir disetiap generasi dia ada...dan selalu ada kisah2 unik dan lucu yg dia warnai selama kiprahnya di Edelweis. Sosok tomboy tapi hati sangat melankolis ini selalu dirindukan kehadirannya di Edel, terutama setiap ada acara ke lapangan....abiiiis...anak2 pada kenyang klo dia ada...orangnya gak tegaan sih..hehehehe

  © e-production