Lembah Sepe Dengan Budaya Kesederhanaannya
>> Monday, July 2, 2007
Suara jeram air sungai yang tiada henti terdengar diiringi nyanyian burung dan serangga serta dihiasi rimbunnya pepohonan yang tumbuh damai disebuah lembah yang dihuni oleh manusia-manusia sederhana adalah gambaran perkampungan kecil di lembah gunung Sarigan.
Sepe-Sepe demikianlah penyebutan lembah itu, sebuah lembah perkampungan kecil yang terletak di kaki gunung Sarigan Dusun Tanete Bulu, Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros. Lembah Sepe dihuni oleh 8 kepala Keluarga yang memiliki status sebagai suku Makassar. Bahasa sehari-hari yang digunakannya adalah bahasa Makassar, uniknya beberapa warga di lembah ini tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia namun mereka dapat mengetahui makna apa yang telah disampaikan oleh komunikator.
Masyarakat lembah Sepe berpenghasilan utama dengan mengandalkan hasil penjualan gula merah dengan harga Rp 2.500/kg sampai Rp 3.500/kg. Pada setiap kali melakukan penjualan mereka hanya dapat menghasilkan 20 kg sampai 30 kg gula merah. Mereka menjualnya di pasar Bonto Parang yang termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten Maros dan Mamampang yang berada di wilayah administrasi kabupaten Gowa dengan harus berjalan kaki menyeberangi sungai dan melewati gunung yang membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam. Untuk hasil pertanian mereka gunakan untuk kebutuhan pokok dalam setahun. Kesederhananaan masyarakat lembah ini dapat kita lihat dengan bangunan tempat tinggalnya yang hanya terbuat dari bambu dan tiang-tiang kecil serta ruangannya yang diisi dengan alat masak, persediaan pangan, serta tempat tidur, walaupun dengan penghasilan itu mereka tetap memiliki sikap pemurah terhadap sesama orang-orang Sepe dan orang yang datang dari luar.
Sikap ramah yang dapat dilihat dari warga sepe bukan hanya sesama manusia melainkan juga kepada alam sekitarnya, mereka sangat menghargai alam yang memberikannya sumber kehidupan. Warga Sepe mengambil hasil dari alam hanya untuk pembuatan gula dan kebutuhan tempat tinggal, lahan untuk sawah dan kebun yang mereka garap yang hasilnya hanya cukup digunakan untuk kebutuhan pokoknya.
Dalam lingkungan lembah Sepe, terdapat suatu acara yang disebut dengan Pappoleang Tinannang yang berarti menghargai hasil dari panen tanamannya. Acara ini merupakan bentuk kesyukuran mereka terhadapa apa yang mereka percayai dan sekalian mempererat sikap kerjasama, kebersamaan, dan gotong royong warga lembah Sepe. Acara ini bisanya mereka lakukan sehabis panen padi di waktu bulan Juli, Agustus atau September. Bentuk dari acara ini sangat sederhana, mereka hanya secara bersama-sama menyiapkan sajian kemudian berdoa dan memakannya secara bersama-sama dirumah warga yang dituakan.
Kesederhanaan lain yang dapat dijumpai di lembah Sepe adalah proses pengolahan padi menjadi beras yang masih menggunakan peralatan tradisional. Mereka menggunakan lesung yang terbuat dari kayu serta penumbuk yang dilakukan secara bersama-sama dalam satu keluarga atau keluarga lain yang menerima panggilan. Proses pengolahan ini dilakukan dengan cara menumbuk padi yang ada pada lesung kemudian ditapis tiga sampai empat kali.
Dibalik nuansa kesederhanaan lembah Sepe terdapat suatu hal yang memprihatinkan jika melihat laju perjalanan bangsa kita. Seluruh anak-anak lembah Sepe yang memiliki usia yang sudah seharusnya mengecap pendidikan sekolah dasar tidak mengetahui cara membaca dan menulis, hal ini diakibatkan oleh jarak sekolah yang sulit dijangkau. Sekolah yang terdekat dari kampung ini terletak di ibukota desa yaitu desa Bonto Parang yang harus ditempuh dengan melintasi bukit dan menyeberangi sungai Ballasa yang memiliki lebar kurang lebih 20 meter tanpa menggunakan sarana penyeberangan dengan lama perjalanan 2 sampai 3 jam untuk sampai di tempat tersebut.
Tulisan ini dibuat saat setelah melakukan perjalanan lintas kabupaten dari Malino (Kabupaten Gowa) ke Bissialabboro (Kabupaten Maros) pada tanggal 17 januari sampai 23 januari 2007.
Crew Lintas Malino-Maros
UKMPA Edelweis FSUH

0 komentar:
Post a Comment