Perjalanan ke Lembanna 7 (Tidak Ada Lagi Air Hangat)

>> Tuesday, June 19, 2007

Ditengah-tengah keheningan itu, tiba-tiba Uce’ sedikit mendekatkan kepalanya ke arahku, dan berbisik: “Tidak ada lagi air hangat.”. Bisikan itu diucapkan Uce’ kepadaku, beberapa detik setelah salah satu peserta yang dilantik mendesis kedinginan ketika harus menerima siraman air dingin tepat di kepalanya. Disiram air, memang menjadi salah satu ritual yang harus dijalani, sebelum mencium bendera dan diambil sumpahnya; dalam proses pelantikan peserta PPAB menjadi anggota muda UKMPA Edelweis FSUH, semua anggota akan mengalaminya. Tentu saja dingin, karena disamping tempat pelantikan yang dipilih dari tahun ketahun adalah tempat yang bersuhu udara relatif dingin, juga karena pelaksanaan pelantikan hampir selalu dilaksanakan subuh hari.

Bisikan Uce’ itu langsung mengingatkanku pada kegiatan serupa, beberapa tahun yang lalu, dengan Sumpang Bita sebagai base camp terakhir, dan sekaligus menjadi tempat pelantikan. Saat itu panitia sepakat untuk menyiram peserta dengan menggunakan air hangat, dalam ritual pelantikan. Hal ini diharapkan menjadi simbol-simbol mengayomi, melindungi dan menyayangi.

Prosesi terakhir dari sebuah pendidikan dasar ini memang menjadi hal yang agak repot, karena yang menjadi bahan pertimbangan adalah kondisi fisik dan mental peserta. Ketika pemikiran kritis peserta bekerja, mereka tentu akan mempertanyakan, apa sih gunanya kita disiram air dingin, apalagi pada saat kita lagi kedinginan. Tentu saja itu adalah upaya untuk menyiksa peserta saja, apalagi dengan disengaja. Berbeda kasusnya ketika peserta tersiksa secara fisik dan mental karena berinteraksi dengan alam, logikanya akan berbicara bahwa ini sudah menjadi konsekuensi berkegiatan alam bebas.

Dari situlah muncul gagasan inovatif tersebut, memberikan sentuhan kasih sayang diakhir perjalanan panjang, sebuah pendidikan yang sarat dengan siksaan fisik dan mental.

Tetapi keadaan memang selalu berubah, terkadang sesuatu yang dianggap bagus pada suatu masa, belum tentu sesuai untuk digunakan pada masa berikutnya. Tidak bisa dipungkiri, sekarang ini memang waktunya mereka, karena memang harus mereka, bukan lagi kita. Tetap harus ada apresiasi buat mereka. (E024...)



0 komentar:

  © e-production