Perjalanan ke Lembanna 5 (Ponco dan Hujan)
>> Friday, June 15, 2007
Setelah melewati bendungan Bili-bili, ada satu halangan lagi yang harus kami hadapi, yaitu hujan. Ditengah perjalanan yang disertai rintik hujan kami berdua sepakat bahwa didaerah ketinggian tetes-tetes air yang turun kadang hanyalah kumpulan kabut yang padat sehingga membentuk tetes-tetes air yang jatuh.
Setelah beberapa kilo perjalanan dengan kondisi seperti itu akhirnya saya bilang ke Daeng Pujie: ”Pakai ponco deh…!”, Daeng Pujie menjawab: “Ndak usah mi, ribet, paling ini juga hujan lewat.” Sejenak saya terdiam dengan jawaban dia seperti itu. Tapi karena saya rasa saya semakin basah, motor langsung kuhentikan, saya buka tas daypack biruku, kukeluarkan sebuah bungkusan pelastik yang berisi ponco lalu memakainya, sambil bilang ke Daeng Pujie: “Sudah dibawa, masa tidak dipakai”.
Setelah beberapa tikungan dilewati, hujan benar-benar berhenti, langsung Daeng Pujie bilang: “Buka mi poncomu“, langsung saya timpali: “Nanti hujan lagi”, karena sebelum saya pakai ponco, kejadiannya memang seperti itu. Jadi saya tidak hiraukan matahari yang bersinar terang, saya tetap didalam poncoku.
Dan benar, tidak lama kemudian hujan turun lagi dengan lebatnya, langsung saya bilang: ”Untung saya tidak ikuti ko Daeng Pujie”. Saat akan memasuki kota Malino, hujan berhenti lagi, disini saya ikuti maunya Daeng Pujie, setelah dia memintaku lagi membuka ponco. Setelah mengisi perut dengan bakso di depan pasar Malino (sebelumnya Daeng Pujie bilang kalau dia lapar dan sudah jam setengah tiga belum makan, katanya).
Setelah membeli bekal seadanya, kami lanjutkan perjalanan ke Lembanna. Ditengah jalan rintik-rintik air kembali jatuh, kali ini kami berdua yakin kalau ini hanya tetes air dari tumpukan kabut yang memang tebal. Dan memang benar tak lama kemudian titik-titik air tak turun lagi, dan akhirnya kami sampai di Lembanna tepat jam tiga.
Satu hal yang langsung kami sampaikan kepada teman-teman kami disana adalah bahwa, memang benar antara orang tua (saya) dengan anak muda (Daeng Pujie) itu berbeda. Dalam hal ini adalah tentang ponco atau jas hujan. (E024...)
Setelah beberapa kilo perjalanan dengan kondisi seperti itu akhirnya saya bilang ke Daeng Pujie: ”Pakai ponco deh…!”, Daeng Pujie menjawab: “Ndak usah mi, ribet, paling ini juga hujan lewat.” Sejenak saya terdiam dengan jawaban dia seperti itu. Tapi karena saya rasa saya semakin basah, motor langsung kuhentikan, saya buka tas daypack biruku, kukeluarkan sebuah bungkusan pelastik yang berisi ponco lalu memakainya, sambil bilang ke Daeng Pujie: “Sudah dibawa, masa tidak dipakai”.
Setelah beberapa tikungan dilewati, hujan benar-benar berhenti, langsung Daeng Pujie bilang: “Buka mi poncomu“, langsung saya timpali: “Nanti hujan lagi”, karena sebelum saya pakai ponco, kejadiannya memang seperti itu. Jadi saya tidak hiraukan matahari yang bersinar terang, saya tetap didalam poncoku.
Dan benar, tidak lama kemudian hujan turun lagi dengan lebatnya, langsung saya bilang: ”Untung saya tidak ikuti ko Daeng Pujie”. Saat akan memasuki kota Malino, hujan berhenti lagi, disini saya ikuti maunya Daeng Pujie, setelah dia memintaku lagi membuka ponco. Setelah mengisi perut dengan bakso di depan pasar Malino (sebelumnya Daeng Pujie bilang kalau dia lapar dan sudah jam setengah tiga belum makan, katanya).
Setelah membeli bekal seadanya, kami lanjutkan perjalanan ke Lembanna. Ditengah jalan rintik-rintik air kembali jatuh, kali ini kami berdua yakin kalau ini hanya tetes air dari tumpukan kabut yang memang tebal. Dan memang benar tak lama kemudian titik-titik air tak turun lagi, dan akhirnya kami sampai di Lembanna tepat jam tiga.
Satu hal yang langsung kami sampaikan kepada teman-teman kami disana adalah bahwa, memang benar antara orang tua (saya) dengan anak muda (Daeng Pujie) itu berbeda. Dalam hal ini adalah tentang ponco atau jas hujan. (E024...)

0 komentar:
Post a Comment