Tradisi Sukku; Kearifan Masyarakat Desa Hutan Karangan

>> Tuesday, July 10, 2007

Oleh:Muh. Imran
NRA E067.02.L.B.82 FS-UH
Lette_KakiE067


Dusun Karangan, 1390 Mdpl, Desa Latimojong, Kecamatan Baraka. Kabupaten Enrekang
Dusun ini berada di Kaki Punggung Pegunungan Latimojong, Pegunungan tertinggi di Sulawesi Selatan, 3478 Mdpl.


Dusun ini dihuni sekitar 50 KK, pada umumnya pola pemukimannya menyatu walaupun ada beberapa rumah yang terpisah jauh dari pusat pemukiman.

Seperti layaknya masyarakat desa hutan, masyarakat karangan masih sangat tergantung pada hasil hutan (Sumber Daya Alam ) sekitar Pegunungan Latimojong. Untuk menopang perkonomian (kopi) atau untuk material pembuatan rumah mereka masih memanfaatkan hasil-hasil hutan berupa rotan atau kayu-kayu besar dan kuat.
Salah satu pemanfaatan hasil hutan yaitu hasil hutan kayu untuk material pembangunan rumah.
Untuk membangun rumah, masyarakat karangan memiliki kearifan tersendiri. Sebelum mengambil kayu di hutan untuk membangun rumah, orang tersebut akan menyelenggarakan acara sukku sebagai rangkaian kegiatan tersebut.



Untuk membangun rumah dibutuhkan :
8 Kubik kayu/1 kubik menjadi 10 batang kayu/tiang
Untuk 1 rumah dibutuhkan 22 batang (rumah ukuran sedang), untuk ukuran rumah besar dibutuhkan kurang lebih 30 batang. Sisa kayu dijadikan balok atau papan.
Jika 1 kubik Rp.60.000 Jadi masyarakat harus membayar Rp.480.000,00 ditambah biaya surat izin Rp.60.000 (Pak Desa) total Rp.540.000,00.
(Papa ida 36 thn, Mantan Kadus Karangan)


Acara Sukku ini dimaksudkan sebagai tanda dan ucapan syukur kepada yang Maha Kuasa pemilik dan pencipta seluruh isi alam sekalian menyediakan makanan bagi seluruh masyarakat yang turut membantu.
Setiap masyarakat yang tua dan yang muda, yang pria dan yang wanita, turut membantu. Pria yang akan menarik kayu dari hutan dan yang wanita menyediakan makanan.



Untuk menuju lokasi, penduduk berkumpul jam 05.00 pagi di tempat yang disepakati sebelumnya. Ada sekitar 60 masyarakat yang membantu.


Perjalanan ditempuh Kurang lebih 2 Jam. Berjalan melewati Kebun kopi, hutan belantara yang beberapa bagian rusak, menyisakan sisa penebangan yang terbengkalai.



Masyarakat karangan banyak menggunakan kayu Uru (Ermerillia Ovalis) untuk tiang rumah, balok ataupun papan.




Mereka juga kadang memanfaatkan Kayu Pohon Surian



Toona Sureni Merr,Famili Meliaceae, banyak tumbuh di seluruh Jawa; Kalsel; Kaltim; Sulut; Sulsel; Maluku; Bali; NTB; NTT; Irian. Tinggi Pohon Surian mencapai 34 m dengan diameter sampai 85 cm dapat dipakai untuk papan. Surian tumbuh pada tanah kering dan tanah lembab yang subur, umumnya di daerah pegunungan pada ketinggian dibawah 1200 Mdpl.


Ironisnya……
Kalau mereka mau menebang pohon ini mereka harus juga mendapatkan surat izin.
Padahal hampir seluruh pohon surian yang tumbuh di sekitar kampung karangan, mereka yang menanam dan merawatnya.
Menurut salah satu sumber kami menyatakan baru sejak setahun ini (2006) peraturan ini berlaku. Peraturan ini sudah menjadi Perda di Kab Enrekang.



Pada setiap ujung kayu dilubangi untuk tempat ikatan tali rotan atau tali nilon yang akan dipakai menarik kayu.




Sebelum kayu ditarik semua berdiskusi mencari dan menentukan pasangan masing-masing.
Setiap kayu ditarik oleh 2 orang di depan dan 2 orang di belakang sebagai pengatur dan penyeimbang. Setiap orang memiliki tali masing-masing.
Untuk memundahkan menarik kayu-kayu tersebut, sudah dibuatkan sebelumnya jalur penarikan berupa batang-batang kayu yang ditancapkan kedalam tanah kemudian dipasangkan dengan kayu bulat secara mendatar. Jalur ini menyerupai rel kereta api.






Semua bergembira sambil menarik kayu. Apalagi di tengah perjalanan kita istirahat sambil disuguhi penganan tradisional khas karangan dengan segelas kopi oleh ibu-ibu dan gadis –gadis kampung karangan.
Setiap orang mendapat segelas kopi dan sebungkus penganan.






Sebelum tiba dikampung semua Istirahat lagi.


Akhirnya tiba juga.
Setelah berjalan kurang lebih 2 setengah jam. Kayu yang ditarik
semuanya 22 Batang.





Setelah istirahat sejenak, semua kemudian menikmati makanan yang disuguhkan oleh masyarakat yang mengadakan acara penarikan kayu.


Seluruh kegiatan diamati langsung dengan terlibat pada semua kegiatan
Muh Imran dan A.Saiful
Foto: Lette_KakiE067


Kegiatan Pendakian dan Observasi Kearifan Lokal Masyarakat Kaki Gunung
Majannang-Karangan
15 Agustus s/d 8 September2006

Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam Edelweis
Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin

2 komentar:

Anonymous August 27, 2007 at 10:28 PM  

Wow..
Salut buat tulisan ini.. Laporan budaya yang singkat namun padat dan dilengkapi dengan data2 ilmiah.
Tulisan yang pastinya bermanfaat bagi penulisnya, pembacanya, dan juga objek yang dikajinya (penduduk setempat). Banyak orang yang belum berkesempatan pergi ke daerah tersebut jadi tahu (sedikit-banyak) tentang masyarakat disana dan tradisinya..
Trims ya..
Sukses dan Lestari Selalu EDELWEIS..

E_066

Anonymous August 7, 2008 at 8:35 PM  

oke.. bagus.. saya juga pengen jadi peneliti hutan seperti anda.

  © e-production