Masyarakat Lamoncong Dalam Menjalani Hidup

>> Sunday, July 13, 2008

Pernakah kita mendengar tentang kata Lamoncong sebelumnya?. Mungkin tiap daerah di jazirah Sulawesi Selatan nama ini tidak asing lagi di telinga bahkan kata ini telah menjadi nama pada beberapa tempat. Lamoncong yang akan kami ulas pada hasil perjalanan crew simulasi Gunung Hutan edelweiss saat melakukan lintas yang dimulai dari kecamatan camba (Maros) dan berakhir di kecamatan Libureng, Camming (Bone) adalah sebuah desa yang berada dalam wilayah kecamatan Bonto Cani Kabupaten Bone.

Lamoncong yang dulunya hanya merupakan sebuah dusun dan berada dalam wilayah desa Langi Kecamatan Bonto Cani kini telah menjadi sebuah desa yang mengatur sistem pemerintahannya sendiri, terbentuknya desa ini dilatar belakangi karena jarak yang cukup jauh dari ibu kota desa dan sulit dijangkau oleh kendaraan umum, atas dasar itulah akhirnya masyarakat lamoncong berinisatif membangun lingkungannya sendiri dan inisiatif itu terkabulkan di tahun 1992.

Di daerah sekitaran kecamatan Bonto Cani, Kahu, dan Libureng, sebagian besar penduduk wilayah itu mengenali Lamoncong karena nilai sejarah yang terkandung dalam kisah perjalanan kampung ini. Apa bila kita berkunjung ke Desa ini kita akan menemukan dua rumah adat yang masih berdiri sampai sekarang dan pemakam kuno yang berada di bukit Lamoncong. Lamoncong yang menurut informasi orang-orang setempat konon katanya adalah nama seorang raja pada jaman dahulu yang pernah bermukim di desa tersebut, di desa Lamoncong terdapat dua rumah adat yang dinamai “salassa “ dan “ saroja “ dan terdapat kompleks makam kuno, dimana pada kompleks makam tersebut dimakamkam seorang raja beserta keluarganya dan pengabdi-pengabdinya (berdasarkan hasil wawancara penduduk). Dari hal itu kita dapat menarik sebuah gambaran bahwa dengan rumah adat dan makam kuno, Lamoncong kemungkinan besar merupakan bekas perkampungan tua, atau sebuah tempat yang dulunya pernah mengatur pemerintahannya sendiri tanpa ada ntervensi dari kerajaan lain.

Mata pencaharian masyarakat Lamoncong masih sangat bergantung dengan alam sekitarnya, hal itu terbukti dengan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai seorang petani dan peladang, dimana musim tanam padi hanya terjadi sekali dalam setahun, selain bercocok tanam sebagian besar penduduknya juga beternak hewan seperti sapi, kerbau, dan kuda. Hewan ternak mereka biasanya dilepas bebas pada sebuah padang yang berada disekitaran desa tersebut. Kondisi sekarang yang cukup menyedihkan bagi penduduk lamoncong tidak adanya aliran listriK PLN yang menjangkau desa itu, sumber pencahayaan ia peroleh dari bantuan genset yang di kelola oleh penduduk setempat dengan jumlah pelanggan 30 rumah, tapi itu hanya berlangsung sampai empat jam saja dan mulai dioperasikan pada pukul 6 malam sampai pukul 10. Kondisi lain yang tak dapat diniikmati masyarakat Lamoncong sebagaimana masyarakat Indonesia lainnya dapat nikmati adalah akses transportasi. Kejadian ini dapat kita saksikan jika masyarakat ingin kepasar, mereka harus berjalan kaki sejauh tujuh kilo meter, dan biasanya mereka memulai perjalanan pada pukul empat atau lima pagi dan akan tiba tiga sampai empat jam kemudian, hal itu telah menjadi kebiasaan masyarakat desa Lamoncong hingga sekarang.

Salah satu cermin kehidupan masyarakat desa adalah sikap gotong royong yang masih kental, sikap seperti ini masih tergambar dalam lingkungan masyarakat desa Lamoncong, kegotong-royongan ini ia buktikan pada beberapa pembangunan fasilitas umum tanpa kucuran dana dari pemerintah setempat, seperti pembangunan tempat ibadah, jalan, dan kantor desa. Satu hal lagi kenikmatan yang tak dapat dirasakan masyarakat lamoncong adalah fasilitas air bersih. Air yang mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari berasal dari mata air yang dijadikannya sebagai sumur umum, namun kendala yang sangat menghawatirkan jika musim kemarau berlangsung, ia akan kekurangan air dan jalan untuk memperolehnya dengan mendatangi sumber air yang letaknya jauh dari pusat pemukiman.

crew Lintas Camba-Camming UKM. PA. EDELWEIS FIB.UH 20 s/d 26 juni 2008

0 komentar:

  © e-production