MENJAGA HUTAN DENGAN CURUPIRA Review film “The Burning Season”

>> Tuesday, July 29, 2008


Walaupun Film yang bercerita tentang seorang pemuda bernama Chico Mendes yang bekerja sebagai penyadap karet di lebatnya hutan amazon ini adalah film yang terbilang film lama tetapi masih cocok untuk selalu menjadi bahan tontonan reflektif untuk siapa saja. Film ini mengisahkan perjuangan Chico Mendes menjaga hutan dari segala tindakan pengrusakan. Melanjutkan perjuangan pendahulunya, Wilson Pinheiro, chico mengorganisir rakyat yang bermukim di sekitar hutan amazon Brazil dan menggantungkan hidup dari hasil hutan non kayu berupa karet, untuk melawan segala bentuk pengrusakan atau pengambilalihan lahan mereka oleh investor asing yang berniat membangun peternakan sapi. Usahanya bukan berlangsung mulus. Investor ini didukung penuh oleh pemerintah, sehingga usaha Chico selalu terhalang. Chico, keluarganya, dan teman-temannya tak pernah berhenti diintimidasi hingga halus sampai kasar. Dengan perserikatan Pekerja Desa, sebuah organisasi yang mereka dirikan untuk mendukung usaha mereka, berbagai usaha yang dilakukan baik secara langsung melawan penebang hutan atau dengan berusaha mencari dukungan internasional. Walhasil Chico mendes berhasil menghentikan usaha pengrusakan hutan tersebut walapun harus dibayar dengan kematiannya di bawah senjata penembak misterius di depan rumahnya.

MITOS CURUPIRA

Hutan amazon sangat luas dan masih terjaga keasliaanya hingga disebut-sebut sebagai stok hutan hujan dunia yang merupakan sebagian besar paru-paru bumi selain hutan di Indonesia yang mengalami deforestasi besar-besaran. Banyak masyarakat yang bermukim di dalamnya yang sudah tinggal lama dan beranak pinak. Mereka sangat menggantungkan hidupnya dengan segala hasil hutannya. Hutan adalah kehidupan mereka. Tanpa hutan tak ada kehidupan bagi mereka. Karena itu, mereka sangat menjaga hutannya dari segala hal yang bisa merusaknya, menebang, membunuh binatang tanpa tujuan yang jelas, atau bahkan mengambil hasil hutan secara berlebihan.

Masyarakat tradisional, pada umumnya di Indonesia juga memiliki serangkaian cerita-cerita, dongeng atau legenda yang mereka pertahankan dengan menanamkan secara lisan kepada anak-cucu mereka untuk menjaga alam sekitar dari kerusakan atau tindakan serakah mengambil hasil alam. Mereka balut dengan cerita-cerita mitis, yang diartikan oleh manusia moderen dewasa ini sebagai hal yang tak masuk akal atau sama sekali tidak ilmiah. Padahal kalau kita cermati secara mendalam semua itu merupakan pengetahuan yang mereka alami puluhan tahun yang berulang hingga teruji kemudian menjadi rangkaian ilmu pengetahuan yang bisa kita sebut kearifan lokal. Kita dilarang mencuci alat makan yang kotor di sungai, karena kita akan dimakan makhluk menyerupai buaya. Itu dimaksudkan sisa-sisa makanan yang non organik maupun yang organik bisa mencemari sungai hingga bisa menimbulkan kerusakan yang akibatnya bisa merugikan kita. Atau di masyarakat suku kajang, masyarakatnya dilarang mengambil kayu secara berlebihan dari hutan, tanah ulayat mereka. Kalau mereka berniat membangun rumah maka harus dihitung terlebih dahulu jumlah kayu yang mereka butuh. Setelah itu mereka harus menanam pohon sejumlah kayu yang mereka butuh. Kalau mereka tidak jalankan, maka mereka akan terus diganggu oleh nenek moyang mereka, mereka tidak akan pernah tentram di rumah tersebut. Dan masih banyak lagi, rangakaian cerita yang mereka balut dengan hal-hal yang menyeramkan, yang sama dengan curupira di hutan amazon, pada masyarakat penyadap karet. Konon kalau mereka mengambil karet secara berlebihan mereka akan diganggu manusia cebol dengan kaki di atas yang menunggangi babi yang mereka kenal dengan curupira. Telah berlangsng lama, masyarakat tradisional kita telah menyadari sepenuhnya pentingnya menjaga hutan jauh sebelum kita memperjuangkan pelestarian hutan atau jauh sebelum pemerintah mencangkan undang-undang kehutanan setelah hutan sudah rusak parah.

Lantas rusaknya hutan kita, pendangkalan sungai, abrasi pantai, iklim dan cuaca yang tidak teratur, panas matahari yang berlebihan, rusaknya perbukitan karst oleh penambangan yang tak hentinya sekarang dan akan terus berbuah bencana. Banjir bandang, kekeringan di mana-mana, tanah longsor, volume daratan yang terus berkurang karena mencairnya es di belahan kutub bumi. Semunya terjadi karena bermula dari tidak dijaga dan dipertahankannya serangkaian pengetahuan tersebut. Semuanya telah hilang. Semuanya hanya sekedar menjadi cerita-cerita yang menakutkan dan menyeramkan bagi kita tanpa membawa pesan-pesan moral yang sangat luhur.

10 Oktober 2007

chezmoi

gambar diunduh dari www.rosanevolpatto.trd.br/lenda_curupira.jpg

0 komentar:

  © e-production