Surv ival, Bertahan Hidup, Proses Adaptasi dan Proses Memanusiakan Diri

>> Monday, September 17, 2007

Kegiatan pendidikan dasar di setiap organisasi pe(n)cinta[1] alam selalu diisi dengan materi survival atau lebih dikenal dengan usaha untuk bertahan hidup di alam bebas. Kegiatan alam terbuka yang aktifitasnya lebih banyak di alam terbuka, yang bebas dan liar lebih banyak memungkinkan terjadinya bencana, kecelakaan, atau musibah yang menimpa kita. Jadi kegiatan alam terbuka adalah kegiatan yang sangat dekat dengan bahaya. Kita harus mengetahui bahwa ketika kita sudah berniat mendaki gunung, memanjat tebing, menelusuri gua, menyusuri sungai pada dasarnya kita secara sadar telah mendekatkan diri kita pada bahaya. Bahaya setiap saat mengancam. Binatang buas sewaktu-waktu dapat mencelakai kita misalnya ular yang yang menggigit, babi hutan. Banjir bandang, angin kencang, suhu yang rendah setiap saat dapat terjadi. Menurut klasifikasi bahaya, bahaya ini termasuk dalam bahaya yang datangnya dari luar diri atau bahaya obyektif. Ada juga yang dinamakan bahaya subyektif, yaitu bahaya yang datangnya dari dalam diri kita. Bahaya ini datang dari dalam diri penggiat alam terbuka. Tidak memiliki pengetahuan kegiatan alam terbuka, tidak memiliki informasi tentang daerah yang akan didatangi, kondisi badan yang tidak fit, tidak memiliki stamina, kehilangan percaya diri, kehilangan semangat, putus asa, tidak memiliki kemauan, tidak saling mempercayai antar anggota tim merupakan bahaya yang setiap saat dapat muncul dari dalam diri kita. Karena bahaya ini datang dari dalam diri kita jadi sedikit banyak dapat kita hindari. Berbeda dengan bahaya obyektif yang berada di luar diri kita jadi semakin sulit untuk dihilangkan, kita hanya bisa menghindarinya atau mengurangi resiko yang ditimbulkan.

Lantas pertanyaannya sekarang, mengapa kita harus bertahan hidup?
Dalam kamus bahasa Inggris survive diartikan dengan menyelamatkan nyawa, atau hidup terus sedangkan survival diartikan dengan kelangsungan hidup. Dalam kegiatan alam terbuka, survival diartikan dengan seni atau usaha untuk bertahan hidup di alam bebas. Jadi dapat diartikan survival adalah usaha untuk mempertahankan diri dari segala bahaya yang mengancam diri untuk tetap hidup. Survival bukan sekedar mengatur masalah makanan, atau hanya pengetahuan bagaimana memanfaatkan segala hal yang tumbuh atau hidup bisa dimanfaatkan sebagai penghilang rasa haus dan lapar. Survival lebih dari itu.

Kalau kita analisa secara lebih mendalam, survival dapat kita artikan sama dengan proses adaptasi. Dalam kamus bahasa Indonesia adaptasi diartikan dengan proses menyesuaikan diri. Ketika kita menghadapi bahaya, atau masalah berarti tercipta sebuah lingkungan, sebuah keadaan atau kondisi baru yang kemudian mengharuskan kita mencari solusi sebagai penyelesaian masalah yang kita hadapi agar tercipta kesesuaian diri kita terhadap lingkungan atau keadaan baru tersebut. Dalam menjalani hidup bahaya atau masalah adalah sebuah keniscayaan. Bahaya dan masalah akan selalu datang kepada segala sesuatu yang hidup atau berada di muka bumi ini termasuk binatang. Jadi karena masalah akan selalu ada, kita harus terus bisa menyesuaikan diri dengan masalah tersebut. Binatang di belahan kutub bumi memanjangkan bulunya untuk mengurangi rasa dingin yang menyerang tubuhnya, belalang hijau yang hidup di rumput yang hijau menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut, binatang di dalam gua menyesuaikan diri dengan memanjangkan sensor tubuhnya di tempat yang gelap untuk menghindarkan bahaya terhadap dirinya, kaktus yang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan padang pasir yang kurang air, begitupun dengan unta yang menyiapkan dirinya dengan kantong air untuk menemani perjalanan kapilah di padang pasir, tak terkecuali dengan kita. Coba pikir pada waktu kita tiba-tiba masuk ke ruangan yang gelap. Mata kita dengan korneanya akan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang cahayanya sedikit. Kornea mata akan berusaha melebar untuk meraup cahaya yang sedikit, gelap. Kemudian ketika kita masuk lagi ke tempat terang, penglihatan kita akan berbayang. Itu merupakan usaha mata menyesuaikan diri. Dalam beberapa saat kemudian kornea mata kita sesuai lagi dengan lingkungan dengan cahaya yang banyak. Demkianlah survival merupakan proses adaptasi, proses menyesuaikan diri dengan kondisi atau lingkungan yang baru.

Survival dan proses memanusiakan diri
Setiap yang berada di muka bumi ini akan terus bertahan, mempertahankan hidup dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan dirinya berada. Binatang akan terus beradaptasi dengan lingkungan dia berada, kondisai yang panas, dingin, binatang lain yang akan mengganggu eksistensinya. Manusia akan terus menyesuaikan dirinya dengan segala kondisi yang dihadapinya. Pada saat usaha bertahan hidup tersebut berlangsung adalah proses menggunakan akal dan fikiran. Proses berfikir berlangsung.

Sementara kita, manusia berada di muka bumi ini dirahmati dengan akal dan fikiran. Begitupun juga dengan binatang. Kemudian pada dasarnya kita sama dengan binatang. Manusia adalah binatang yang berfikir. Hanya proses berfikirnya berbeda. Pada binatang proses berfikir tersebut tidak berkembang. Binatang tidak memiliki daya imaginasi. Binatang tidak memiliki proses berfikir yang jauh kedepan, visi. Binayang hanya memiliki insting, berfikir sekarang. Coba kita lihat sarang burung dari dulu hingga hari ini begitu-begitu saja. Beda dengan manusia yang menciptakan rumah terus menyesuaikan dengan kondisi. Kalau dulu manusia hidup berpindah-pindah lalu tinggal di gua, kemudian berusaha menciptakan rumah yang tahan lama, dari bahan-bahan asli dari alam, sekarang kita bisa menikmati rumah yang berbahan semen, tahan gempa, bertingkat. Begitulah proses berfikir binatang dan manusia berbeda.

Pada kegiatan alam terbuka, kita diajarkan untuk terus berfikir. Menggunakan metode perencanaan untuk mampu bertahan hidup di alam bebas. Itulah Persiapan perjalanan alam terbuka. Kegiatan perjalan alam terbuka yang diawali dengan memikirkan segala hal menyangkut perjalanan kita. Mulai dari apa yang akan kita laksanakan, tujuan perjalanan kita, dengan dan kapan kita akan melakukan perjalanan, perlengkapan hingga logistik. Tidak sampai di situ. Di alam terbuka, proses berfikir itu akan terus berlangsung, membaca tanda-tanda alam, merenungi kejadian-kejadian alam yang kosmis, memikirkan solusi ketika kita menghadapi aral dan kehilangan orientasi. Setelah kembali dari perjalanan kemudian mengevaluasi dan membuat laporan, merefleksikan kegiatan perjalanan, manfaat apa yang telah kita dapat selama perjalanan tersebut. Itu semua adalah proses berfikir. Semua hal yang kita lakukan dalam kegiatan alam terbuka adalah proses mempertahankan hidup kita, mempersiapkan perjalanan alam terbuka, menggunakan pengetahuan navigasi darat, menggunakan pengetahuan panjat tebing, begitu juga pembuatan hasil perjalanan. Jadi semestinya, kita, Penggiat Alam Terbuka, atau kita yang telah menempelkan identitas pecinta alam pada diri kita, banyak berkegiatan di alam terbuka, kondisi yang banyak menyediakan hal-hal, keadaan, peristiwa-peristiwa yang menuntut kita untuk terus berfikir, memikirkan segala hal yang terjadi di sekitar kita. Bisa dikatakan bahwa kita telah banyak bersimulasi di alam. Mungkin alasan inilah yang dipakai oleh Event Organiser untuk melaksanakan kegiatan Outbound, yang beberapa tahun belakang ini diminati banyak perusahaan untuk usaha pengembangan sumber daya karyawannya.

Proses bertahan hidup yang berusaha menyesuaikan diri dengan menggunakan akal adalah proses yang tak akan berhenti untuk menjadi manusia yang sesungguhnya manusia. Dengan terus menggunakan akal dan fikiran kita akan menjadikan kita sejatinya manusia yang membedakan kita dengan binatang. Lebih jauh lagi kita telah masuk dalam lingkaran rahmat sang penguasa alam yang maha besar, yang mensyukuri rahmat akal yang telah diberikan kepada kita. Pada tahap inilah dengan terus berfikir posisi kita akan ditinggikan dari posisi makhluk hidup lainnya di muka bumi ini. sekali lagi, survival adalah berfikir tentang segala hal yang ada dalam diri kita dan di luar diri kita, sesuatu yang ada dalam jagad raya. Proses berfikir yang memanusiakan diri kita sebagai manusia.


old_backpackerE067
Penggiat Alam Terbuka yang tergabung dalam
UKM. PA. Edelweis FS-UH

Bila engkau tidak dapat menjadi beringin yang tegak diatas puncak bukit,
maka jadilah saja rumput, tetapi rumput yang tumbuh memperkuat tanggul.
Bila engkau tidak bisa menjadi jalan besar,
maka jadilah saja jalan setapak, tetapi jalan setapak yang menuju ke mata air.
Tidak semuanya dapat menjadi nahkoda, tentu harus ada kelasi.
Sebaik-baiknya engkau adalah menjadi dirimu sendiri. PENGEMBARA
Jadilah manfaat bagi sekitarmu…..
Muh imran
NRA. E067.02.L.A.82. FS-UH


[1] . Penggunaan istilah Pencinta dan atau Pecinta sangat beragam dalam dunia kepe(n)cintalaman. Dalam ilmu bahasa kata benda yang berawalan (pe) dan (pen) dibedakan maknanya.

4 komentar:

Anonymous January 27, 2010 at 8:32 AM  

Добавил в закладки. Теперь буду почаще читать!

Anonymous January 28, 2010 at 3:41 PM  

Молодца! Так держать! Подписываюсь!

Anonymous January 30, 2010 at 12:56 PM  

Я охринел………круто +10

Anonymous January 31, 2010 at 5:24 PM  

я бы кое-что добавила, но по сути сказано все

  © e-production