…….Titik-titik…….

>> Thursday, September 6, 2007


Entah mengapa langkah kaki begitu berat beranjak, otak pun semakin terasa bertambah volumenya. Padahal tak ada hal yang patut memberatkan, semestinya. Sebuah pilihan yang nantinya akan menjadikan ku sebagai diriku, akan memperlihatkan ke-aku-an ku. Itu yang aku tahu. Ya, sebuah pilihan bahwa akhirnya aku memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk memilih pilihannya sendiri, edelweis.

Banyak hal yang mereka taktahu dari aku, edelweis, kami, dan dari apa yang ku harapkan. Orang tua yang takkan bisa rela jika buah hati mereka sengaja menghilangkan diri dalam pengembaraan yang tak jelas menurut mereka. Ade’ku tersayang dengan candaannya, padahal lebih tepat disebut harapannya, juga tak ingin melihat kakaknya yang lebih dulu manis kelak menandingi kelakiannya, itupun menurut dia. Kak Arni, penyumbang ilmu terlimpah bagiku di kampus selama ini, yang dengan tegas akan mengatakan ‘tidak’ untuk itu, meski dia belum tahu atau mungkin masih menunggu sampai aku memberitahu. Teman-teman komuna mungilku, meski tak mengatakan langsung ‘tidak’ untuk itu pula, namun perubahan kalian memaksaku mengaca bahwa kalian memanggilku untuk tetap bersama. Aku sama sekali tak berkeinginan meninggalkan kalian tapi beri aku kepercayaan untuk bisa merangkak dan berdiri sendiri tanpa berpasrah pada kalian, bukan lepas.

Ketika mereka yang berlainan saat ini di dekatku, bersama masih dalam ruang waktu yang tak cukup lama, tapi itulah ruang masa pagi ini. Kepanikan masih belum redam juga tapi kami lanjut bersama menyusuri jalan yang entah kapan kelak masih akan kami lewati bersama tawa atau tidak. Carrier seberat 60 liter yang untuk pertama kalinya menggantung dipunggung membuatku sedikit bersombong diri yang tak penting pastinya bagi banyak orang, kayak anak kecil, tapi itukan aku. Awal pemberangkatan perjalanan kedua ku bersama kalian yang kami sebutnya diksar ppab, membuatku berargumen sesaat setelah berada di dalam kendaraan kami kala itu. Kami memang lumayan tidak kompak tapi yang aku rasa justru disitulah kebersamaan aku dan kalian. Setelah menginjakkan kaki di daerah Majanang, angkah kaki lalu berjalan menuju tempat dimana malam akan terhabiskan disana, sebuah bukit di kelurahan Bonto Lerung.

Kamis pagi tatkala mata ini masih enggan membuka padahal hujan deras dan angin malam semalaman mengilukan tulang-tulang dan tak membiarkan tubuh beristirahat tenang. Hampir saja terlupakan satu hal yang harus aku lakukan fajar itu. Sedari malam kepenasaranku tertimbun tuk melihat jelas keadaan sekitar yang tertutupi gelap malam dan aku yakin mengagumkan. Saat terjaga pun tiba, benar adanya, SUBHANALLAH, betapa beruntungnya diri ini jika saja jiwaku tak terbangun untuk melangkah ke tempat ini maka bertambah lagi anugerah dan rahmat-NYA yang tak sempat aku nikmati dan syukuri. Hijau yang tak lagi kudapati di riak metropolisku, bukit berembun dan kabut lembut, titik dimana kupijakkan kaki sambil merangkul tubuhku sendiri dengan erat, takkan kudapati moment itu, sekali lagi di metropolisku. Selamat pagi bukit hijau-MU, selamat pagi terjunan air gunung-MU, selamat pagi keMahaBesaranMU.

Dan perjalanan tetap berlanjut, masih jauh di depan pun aku tak mampu membayangkan apa saja yang akan tertemui di sana. Lambat laun aku merasa sedikit terkecilkan diantara mereka, temanku saudaraku. Mereka terlalu kelakian untuk menganggapku manja dan lemah terlebih ketika menyusuri jalan setan yang hampir tak berujung, tapi itu masih mungkin atau bahkan aku yang terlalu merasa. Tak tahu kenapa kantung di mata terasa berat dan tak tertahan lagi untuk membanjir mengalir, berat memang, tapi itulah pilihan yang tak ada kata menyesal kecuali semangat!!!!! Setapak demi setapak berhasil juga terlewati, sesekali aku menyempatkan mata memandangi permadani hijau di bawah ku, untuk membuang lelah setidaknya.

Lelah, lapar, dongkol, ngantuk, mulut yang tak hentinya mengumpat setelah melalui berbagai moment yang dengan sendirinya memperlihatkan dark side dari ke-aku-anku pun mereka yang turut ada di dekatku selama perjalanan panjang ini. Sampai aku benar – benar lumpuh dan tak mampu menahan derasan airmataku, ya…aku t’lah kalah oleh kelemahan dan keegoanku sendiri hingga mereka kembali memapahku, menenangkanku sebelum aku menghentikan langkah perjalananku. Pinus yang terlanjur meninggi pun merunduk menyegarkan dan menyemangatiku dengan lambaian ranting dan dedaunnya. Selanjutnya, titik akhir namun bukan yang terakhir, dia sendiri yang menjemputku, ya…anggota muda-ku akhiarnya tersemat juga didiriku meski kala itu tulang-tulang terasa ngilu dan membuatku lumpuh seketika karena begitu menusukknya dingin malam itu. Namun itulah bunga dari sebuah perjuangan, perjuangan yang telah ku yakini tak akan sia-sia, bersama keenam dari mereka, teman saudaraku.

Fajar masih setia, terima kasih, untuk awal yang baru, untuk semangat yang berbeda, untuk mimpi yang semakin berwarna, untuk mereka yang berlainan tapi masih sama, dan untuk doa yang bertambah…

Komuna Mungilku di Edelweis, aku lebih suka menyebutnya demikian, mungil tapi akan selalu abadi, dbanding besar tapi akhirnya tak bernyawa.

Semoga masih banyak waktu ‘berbicara’ di atas kertas putih ini untuk segenggam cita-cita dan untuk sedetik kebersamaan yang jangan terlewatkan begitu saja.

17 Juni 2007, Ahad…re

Ria Edel

0 komentar:

  © e-production