Apa yang aku cari, bukanlah Trianggulasi..
>> Tuesday, March 30, 2010
(sebuah refleksi perjalanan tim PPAB XV di g.lompobattang)
Ribuan langkah kaki mendaki, bagi kami satu langkah pasti,menyaksikan karya Ilahi melestarikan bumi Ibu Pertiwi" Ku ikat kencang tali sepatu usang itu, berwarna cream namun kini lebih dominan cokelat, nampaknya. Dengan platnya yang telah terbelah, sepatu ber-merk Eiger itu nampak lusuh. Semakin nampaklah jam terbang sepatu itu amatlah tinggi di jalur pendakian. Walaupun berstatus pinjaman, aku boleh berbangga memakainya. Sebagai calon anggota di UKM PA EDELWEIS FIB-UH, ku masih bertatus beginner atau pemula. Sangat kontras dengan banyaknya gunung yang telah dipijaki oleh sepatu yang ku gunakan itu. Carrier kapasitas 80 liter yang terisi padat oleh alat dan ransum, telah terbungkus rapi dan mencengkram bahu ku. Seakan ingin meremukkan punggung dan mematahkan tulang-tulang ku. Tak pelak ku begitu cemas, mungkinkah ku bisa menyentuh tranggulasi puncak Gunung Lompobattang nantinya?
Rasa khawatir dan was-was tertutupi oleh semangat menggebu yang dipinang oleh rasa keingintahuan bagaimana rupa alam liar di luar sana. Kepuasan jasmani dan rohani yang dijanjikan alam akan bukti kebesaran dan keagungan Tuhan, adalah salah satu alasan ku mengikuti pendakian itu. Setidaknya ku mendapatkan jawaban dari pertanyaan orang-orang yang gemar mencemoh kegiatan pendaki gunung yang selalu mengumpat dan berceloteh tentangnya, “dasar orang kurang kerjaan! Ada tempat enak tidur di kasur kamar malah mereka pergi rebah di batu atas gunung! Ada tempat keren nongkrong di mall malah mereka pergi memandang sun-set di puncak gunung!”
Sebelum berangkat, saya beserta tim pendakian menyempatkan diri untuk berdoa bersama, meminta perlindungan dan kekuatan dari-Nya yang kelak pasti sangat kami butuhkan. 14 orang yang siap menggempur terjalnya jalur menuju puncak, termasuk saya, tengah memulai petualangan dengan cukup menguras tenaga. Walaupun hanya menumpang mobil sewaan, perjalanan dari kampus Unhas Tamalanrea - Malakaji, Jeneponto memakan waktu 5 jam. Tim yang berangkat siang hari, baru sampai di camp pertama di sebuah rumah warga pada pukul 8 malam.
Di sebuah rumah kayu sederhana, Dg. Gassing sang pemilik rumah terlihat begitu akrab dengan para kakak-kakak pendamping. Jelas terlihat dari kemampuan bapak tua itu berinteraksi dengan kami, dengan para pendaki dalam hal ini. Beliau tak sungkan memberi kami kewenangan untuk menggunakan dapur serta ruang tamunya untuk memasak dan beristirahat. Dari teras depan rumahnya saja tertempel begitu banyak stiker dari MAPALA lain serta foto-foto yang menandakan begitu familiarnya sang pemilik rumah dengan pendaki Gunung Lompobattang. Sembari mengembalikan kebugaran tubuh yang sempat terkuras selama perjalanan tadi, tim pendakian beristirahat dimanjakan dengan dinginnya malam di rumah tersebut.
Matahari pun bersinar menghangatkan belahan bumi yang lain. Namun di desa itu rasanya sinar terik mentari tak membara lagi. Seakan dinginnya pagi yang berbuih oleh hembusan kabut dan embun enggan melepas teriknya matahari, terus menusuk barisan tulang hingga membuat nafas terbata-bata. Ku pun tak mau melewatkan suasana beku itu, yang notabene hanya biasanya ku lihat di televisi. Belum lagi deretan kegiatan pagi itu yang harus tim selesaikan, mulai dari packing barang hingga persiapan akhir perjalanan. Titik matahari telah berada pada dimensi pagi menjelang siang, pukul 9 seperti biasanya sebelum memulai kegiatan lapangan selalu diawali dengan berdoa bersama. Setelah merasa matang akan semangat dan tenaga, 14 orang pendaki termasuk saya meminta pamit kepada empunya rumah dan berjanji 3 hari lagi jika diberi keselamatan maka kami akan berjumpa lagi.
Nampak gunung Lompobattang yang akan kami daki begitu konservatif dan terorganisir secara manual. Posko wajib lapor yang terletak tak jauh dari pintu rimba atas banner SAR UNHAS menjadi tempat kami melapor jika seandainya terjadi sesuatu dengan kami di atas gunung nantinya.
Di pos pertama kami disambut dengan aliran sumber air yang segar, seakan memamerkan bahwa inilah salah satu daya tarik gunung tersebut. Setelah merasa cukup siap, perjalanan untuk petualangan kami mulai.
Mendaki, licin dan terjal. Mungkin demikian kondisi medan yang dilalui. Memang pada awal melangkah ketika kaki masih dalam posisi normal, perjalanan begitu enteng sembari memandangi hijaunya daerah itu. Yang nampak hanya pohon, kayu atau daun. Sedikit ku mulai merasa kewalahan memijakkan kaki dan melekukkannya untung menopang ke atas badan yang digunduki oleh carrier yang berat. Agak gelisah memang menanti pos II sebagai tempat istirahat, pasalnya perjalanan yang telah ku tempuh sejak 45 menit tadi tak juga menunjukkan keberadaan pos tersebut. Sembari merunduk dan menarik nafas, ku menatap sekilas ke atas. Dan, masih pendakian dan pendakian lagi..
Begitu merasa terselamatkannya diriku ketika tiba di pos II, tanpa aba-aba langsung ku mengambil posisi duduk sambil menghela nafas melonggarkan pedal carrier yang sedari tadi membuatku gerah. Setelah ku bisa berfikir tenang, baru kusadari bahwa tim masih baru berada di pos II, belum di top destinasi yaitu pos X. aahhh…!!!
Setiap langkah adalah perjuangan, setiap inci pijakan ke atas ialah tantangan. Tak ku sangka ku begitu kocar-kacir menjaga keseimbangan tubuh yang telah kedodoran tenaga. Belum lagi beratnya beban yang diberikan carrier, membuatku sempat merancau ingin membuangnya dan terbebas dari bebannya. Tak dipungkiri ku menaruh emosi dengan tumpangan isi carrier ku itu, kini ia tak bersahabat dan makin membutku muak menggendongnya dengan terseok-seok. Begitu banyak per-andai-an yang terlintas dikepala ku. Seandinya di sini ada ojek, seandainya ku punya ilmu meringankan tubuh, seandainya ku bisa langsung tiba di puncak, bahkan sempat ku berfikir seandainya ku tak ikut pendakian itu yang belakangan ku menyesal karena sempat berfikir seperti itu..
Ribuan langkah kaki mendaki, bagi kami satu langkah pasti,menyaksikan karya Ilahi melestarikan bumi Ibu Pertiwi" Ku ikat kencang tali sepatu usang itu, berwarna cream namun kini lebih dominan cokelat, nampaknya. Dengan platnya yang telah terbelah, sepatu ber-merk Eiger itu nampak lusuh. Semakin nampaklah jam terbang sepatu itu amatlah tinggi di jalur pendakian. Walaupun berstatus pinjaman, aku boleh berbangga memakainya. Sebagai calon anggota di UKM PA EDELWEIS FIB-UH, ku masih bertatus beginner atau pemula. Sangat kontras dengan banyaknya gunung yang telah dipijaki oleh sepatu yang ku gunakan itu. Carrier kapasitas 80 liter yang terisi padat oleh alat dan ransum, telah terbungkus rapi dan mencengkram bahu ku. Seakan ingin meremukkan punggung dan mematahkan tulang-tulang ku. Tak pelak ku begitu cemas, mungkinkah ku bisa menyentuh tranggulasi puncak Gunung Lompobattang nantinya?
Rasa khawatir dan was-was tertutupi oleh semangat menggebu yang dipinang oleh rasa keingintahuan bagaimana rupa alam liar di luar sana. Kepuasan jasmani dan rohani yang dijanjikan alam akan bukti kebesaran dan keagungan Tuhan, adalah salah satu alasan ku mengikuti pendakian itu. Setidaknya ku mendapatkan jawaban dari pertanyaan orang-orang yang gemar mencemoh kegiatan pendaki gunung yang selalu mengumpat dan berceloteh tentangnya, “dasar orang kurang kerjaan! Ada tempat enak tidur di kasur kamar malah mereka pergi rebah di batu atas gunung! Ada tempat keren nongkrong di mall malah mereka pergi memandang sun-set di puncak gunung!”
Sebelum berangkat, saya beserta tim pendakian menyempatkan diri untuk berdoa bersama, meminta perlindungan dan kekuatan dari-Nya yang kelak pasti sangat kami butuhkan. 14 orang yang siap menggempur terjalnya jalur menuju puncak, termasuk saya, tengah memulai petualangan dengan cukup menguras tenaga. Walaupun hanya menumpang mobil sewaan, perjalanan dari kampus Unhas Tamalanrea - Malakaji, Jeneponto memakan waktu 5 jam. Tim yang berangkat siang hari, baru sampai di camp pertama di sebuah rumah warga pada pukul 8 malam.
Di sebuah rumah kayu sederhana, Dg. Gassing sang pemilik rumah terlihat begitu akrab dengan para kakak-kakak pendamping. Jelas terlihat dari kemampuan bapak tua itu berinteraksi dengan kami, dengan para pendaki dalam hal ini. Beliau tak sungkan memberi kami kewenangan untuk menggunakan dapur serta ruang tamunya untuk memasak dan beristirahat. Dari teras depan rumahnya saja tertempel begitu banyak stiker dari MAPALA lain serta foto-foto yang menandakan begitu familiarnya sang pemilik rumah dengan pendaki Gunung Lompobattang. Sembari mengembalikan kebugaran tubuh yang sempat terkuras selama perjalanan tadi, tim pendakian beristirahat dimanjakan dengan dinginnya malam di rumah tersebut.
Matahari pun bersinar menghangatkan belahan bumi yang lain. Namun di desa itu rasanya sinar terik mentari tak membara lagi. Seakan dinginnya pagi yang berbuih oleh hembusan kabut dan embun enggan melepas teriknya matahari, terus menusuk barisan tulang hingga membuat nafas terbata-bata. Ku pun tak mau melewatkan suasana beku itu, yang notabene hanya biasanya ku lihat di televisi. Belum lagi deretan kegiatan pagi itu yang harus tim selesaikan, mulai dari packing barang hingga persiapan akhir perjalanan. Titik matahari telah berada pada dimensi pagi menjelang siang, pukul 9 seperti biasanya sebelum memulai kegiatan lapangan selalu diawali dengan berdoa bersama. Setelah merasa matang akan semangat dan tenaga, 14 orang pendaki termasuk saya meminta pamit kepada empunya rumah dan berjanji 3 hari lagi jika diberi keselamatan maka kami akan berjumpa lagi.
Nampak gunung Lompobattang yang akan kami daki begitu konservatif dan terorganisir secara manual. Posko wajib lapor yang terletak tak jauh dari pintu rimba atas banner SAR UNHAS menjadi tempat kami melapor jika seandainya terjadi sesuatu dengan kami di atas gunung nantinya.
Di pos pertama kami disambut dengan aliran sumber air yang segar, seakan memamerkan bahwa inilah salah satu daya tarik gunung tersebut. Setelah merasa cukup siap, perjalanan untuk petualangan kami mulai.
Mendaki, licin dan terjal. Mungkin demikian kondisi medan yang dilalui. Memang pada awal melangkah ketika kaki masih dalam posisi normal, perjalanan begitu enteng sembari memandangi hijaunya daerah itu. Yang nampak hanya pohon, kayu atau daun. Sedikit ku mulai merasa kewalahan memijakkan kaki dan melekukkannya untung menopang ke atas badan yang digunduki oleh carrier yang berat. Agak gelisah memang menanti pos II sebagai tempat istirahat, pasalnya perjalanan yang telah ku tempuh sejak 45 menit tadi tak juga menunjukkan keberadaan pos tersebut. Sembari merunduk dan menarik nafas, ku menatap sekilas ke atas. Dan, masih pendakian dan pendakian lagi..
Begitu merasa terselamatkannya diriku ketika tiba di pos II, tanpa aba-aba langsung ku mengambil posisi duduk sambil menghela nafas melonggarkan pedal carrier yang sedari tadi membuatku gerah. Setelah ku bisa berfikir tenang, baru kusadari bahwa tim masih baru berada di pos II, belum di top destinasi yaitu pos X. aahhh…!!!
Setiap langkah adalah perjuangan, setiap inci pijakan ke atas ialah tantangan. Tak ku sangka ku begitu kocar-kacir menjaga keseimbangan tubuh yang telah kedodoran tenaga. Belum lagi beratnya beban yang diberikan carrier, membuatku sempat merancau ingin membuangnya dan terbebas dari bebannya. Tak dipungkiri ku menaruh emosi dengan tumpangan isi carrier ku itu, kini ia tak bersahabat dan makin membutku muak menggendongnya dengan terseok-seok. Begitu banyak per-andai-an yang terlintas dikepala ku. Seandinya di sini ada ojek, seandainya ku punya ilmu meringankan tubuh, seandainya ku bisa langsung tiba di puncak, bahkan sempat ku berfikir seandainya ku tak ikut pendakian itu yang belakangan ku menyesal karena sempat berfikir seperti itu..
Perjalanan ku tempuh dengan penuh benci dengan carrier ku hingga emosi-emosi itu membuat ku tak sadar jika saya telah dekat dengan puncak. Puluhan cerita yang telah ku depak selama perjalanan kian membuat ku takjub dengan gunung itu. Dari punggungan sempit, hembusan kabut yang dingin, flora unik hingga berbahaya, dinding tebing yang ber-tetangga-kan jurang, rotasi angin yang menghuyungkan badan, lembah pintu angin hingga pemandangan ke bawah seakan ku berada di atas awan, berada di atas dunia dan segala kerancuannya, berada di tempat yang membuatku sadar bahwa di puncak gunung sekalipun masih dinaungi langit yang berarti ku tak pernah bisa menjadi yang “tertinggi”.
Klausa “tertinggi” yang digunakan ialah sebagai pencitraan cita-cita manusia yang bersifat absurb, dominasi nafsu dan pragmatis. Secara tak langsung ku pahami bahwa Alam berusaha mengajarkan manusia untuk memposisikan dirinya sebagai mahluk. Maksudnya, Alam memberi manusia gambaran akan salah satu ciptaan Tuhan yaitu keindahan dan kemegahannya. Tak satupun manusia menciptkan gunung, hujan, hutan dan komposisi Alam liar lainnya.
Kerasnya rintangan alam dan kejutan yang diberikan seperti hujan, badai serta menurunnya suhu kian menambah kesan sebagai oleh-oleh kami pulang nantinya. Kendati disuguhi berbagai tantangan, tim pendakian tak menganggapnya sebagai halangan untuk berhenti bertualang, untuk mencaritahu atau untuk berbagi kesan dengan Alam. Hingga akhirnya saya sadar bahwa kendala yang menghadang bukanlah alasan untuk tidak bertualang, justru sebagai pedoman agar lebih dewasa menghadapi persoalan. Determinasi energi yang terus tertekan ialah hal yang lumrah bagi diri ku pribadi.
Sadar akan hal itu, justru merambah keinginan ku semula yang takluk akan rasa lelah dari diri ku sendiri menjadi kian bernafsu mengayunkan kaki lebih panjang dan lebar mendaki terjalnya medan. Walhasil, sesampainya di puncak, menyentuh tranggulasi serta (tentu saja, berfoto-foto. Hehhee..) terbayar semua kepenatan selama perjalan tadi. Tak dapat dijelaskan dengan kata-kata apa yang membuat ku merasa puas, namun ada kebanggaan tersendiri yang ku dapatkan. terlebih lagi tim pendakian tak hanya sekedar pergi mendaki. Kami lebih di fokuskan untuk membuat informasi tentang gunung tersebut yang berbentuk laporan ilmiah, tersusun dan terarah. Tak lepas bakti kami dengan memasang plat di tiap pos yang berisi informasi tentang jalur dan medan berupa kordinat Utara dan Selatan, Elevasi dari dasar permukaan laut serta jarak ke pos berikutnya.
Sepulangnya kami dari pendakian Lompobbattang, dengan puluhan mungkin ratusan cerita telah disimpan secara permanen dalam memori kami. Dan jawaban dari cemohan yang orang paparkan kepada para Pencinta Alam kini terjawab. Tentu karena mereka BELUM MAU menengok ke sana. Jelaslah kini saya dan kami tak perlu merasa risih lagi dengan anggapan buram tersebut..


0 komentar:
Post a Comment