…Sepenggal kisah di gunung sojol…
>> Monday, February 16, 2009
January 2009
Entahlah suasana berbalik begitu cepat, baru saja kami menikmati indahnya mentari pertama di awal tahun baru ini bersama kicauan burung, hembusan semilir angin, dan birunya lautan teduh yang membentang dari tempat kami menengadah semua mahakarya Tuhan. Saat kami mengemasi barang bawaan ke dalam carrier, tiba-tiba angin menerobos dan mencoba merubuhkan lima tenda dome yang masih berdiri gagah diatas pasaknya,lama kelamaan sang angin memanggil kawannya, maka datanglah sang hujan…butiran air yang tadinya tak begitu nakal mulai meninggikan suaranya…sang angin tak mau kalah ia mulai bersenang-senang mendengdangkan ekornya kepepohonan…semakin kencang…kencang dan menjadilah ia yang torang sebut badai.
Kini gumpalan awal tebal mulai menari riang diatas kami, memainkan dedaunan dari tanah sampai terayung ke angkasa, mematahkan ranting lalu menerbangkannya sesukanya saja tanpa meminta persetujuan kami yang ada disitu, merobohkan pohon-pohon tua yang tak berdosa, lalu dengan irama angin timur menggoyangkan pepohonan seperti goyangan dangduters di televisi seksi tapi mengerikan, bukan main!
Ada 14 pasang mata yang menyaksikan pertunjukan alam yang mahadahsyat itu…entah apa yang sedang bermain diotak nakal mereka…adakah yang menyesal melakukan pendakian diawal januari ini?atau adakah yang sedang mencoba menggombal Tuhannya agar melindunginya dari kebingasan alam yang sedang mempertontonkan Powernya?atau mungkin sedang mereka senang menikmati pertunjukan demikian, melihat lekuk seksi sang angin saat menggerayangi tubuh pepohonan, menikmati aroma alam yang terpancar dari daun Ebony yang marah?entahlah atau aku saja yang lagi mengacaukan analogi sendiri.
Kuranglebih empat jam kami terkurung dalam pentas alam yang tak berpenggung…sang sutradara mungkin sedang membaca pikiran penontonnya yang kacaubelia…ini adalah hari kedua perjalan team Ekspedisi Budaya Fuyul Sojol, dan sekaligus sambutan yang kedua kalinya dengan pementasan tema yang sama…badai…tanggal 30 des 08 kemarin torang juga disambut badai sebagai sambutan awal pendakian untungnya pertunjukan cepat diredam oleh hadirnya sang mentari yang datang sebagai dewa penolong.
Aku ingat persis saat temanku, Patrik, diterpa patahan ranting, sampe bokong memerah dan kadang ia merasa sakit ketika mulai memakai carriernya, ada juga yang bibirnya so pucat sekali…ada yang pura-pura jogging saking dinginnya tapi ada yang tetap sumringah dengan wajah yang takberdosa…sepertinya ia sudah mulai akrab dengan badai seperti ini namun tidak bagiku, ini adalah cerita pertama saat aku terkena badai…maklum jam terbang masih hijau…sekitar jam sebelas badai mulai meminta diri untuk keluar dari pertunjukan, beberapa orang yang tadinya merasa down sudah kembali berbesar hati melanjutkan perjalan ke puncak…baru juga pos IInya torang.
Langkah antisipasi yang coba kami ambil adalah bertahan di camp ini, membaca tanda-tanda alam. Keesokan harinya perjalana baru dilanjutkan kembali. Satu hal yang memotivasi langkah ini adalah tanggungjawab yang sedang kami emban…jauh di selatan sana teman-teman di edelweis menaruh harapan kelak team yang lima kepala ini bisa menancapkan kesuksesan Ekspedisi. Inilah wujud cinta kepada edelweisku…setitik bakti yang tak bisa ku beri harga…
Team ekspedisi sojol terdiri dari (edelweis unhas)anti,ati.patrik,fahry dan wawan sebagai team inti dan beberapa Team pendukung lainnya antaranya;(sagarmatha Untad)Indra,Ibnu dan ustat;(Galara Untad) Uchim dan Unus;(Santigi Untad)Yoyo;(Kumtapala Untad)Lilo,(KPA Erapal)Unding;(Impala SPB)Ikra. Team ini berhasil menjejakkan kaki dipuncak sojol pada hari ke-7 yakni tanggal 06 januari 2009. Sesaat menjelang puncak, kami kembali disambut sang badai sekaligus menjadi saksi suara takbir yang dikumandangkan Ustat di Puncak Sojol. Kalo boleh dikata perjalanan kami menghabiskan dua kalender yakni 2008 dan 2009, itungan kasarnya setaonlah.
Aku hamper lupa menuturkan keramahan suku Lauje atau yang biasa di sebut bela dengan sumpit beracunnya. Tak seperti informasi yang kuketahui sebelumnya katanya bela ini bisa memangsa manusia…tapi tidak…mereka ramah dengan rasa social yang tinggi. Buktinya selama memasuki area perkampungan bela ini, mereka menjaga kami supaya bisa pulang dengan selamat.
thanks to KPA Lambotan and MAPATALA UNTAD
I just wanna say ‘its not a story of total adventure but it leads us in learning process how to know yours or the others (everything out of you)…nature is god itself
Dituturkan oleh Erwanti Abdullah

0 komentar:
Post a Comment